2. GOLONGAN SEFALOSPORIN
| Chepalosporium acremonium |
Sefalosporin diperoleh dari biakan Chepalosporium
acremonium. Seperti halnya penisilin, daya mikrobanya terletak pada cincin
beta-laktam, dengan mekanisme kerja berdasarkan perintangan sintesis dinding
sel.
Walaupun aktivitasnya luas, namun
sefalosporin bukan merupakan obat pilihan pertama untuk penyakit manapun,
karena masih terdapat obat-obat lain yang kurang lebih sama khasiatnya dan jauh
lebih murah harganya.
a. Mekanisme
kerja dan aktivitas
Seperti halnya antibiotik betalaktam lain, mekanisme kerja antimikroba
sefalosporin ialah manghambat sintesa dinding sel mikroba. Yang dihambat ialah
reaksi transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding
sel. Sefalosporin aktif terhadap kuman gram positif maupun gram negatif, tetapi
spektrum antimikroba masing-masing derivat bervariasi.
b. Efek samping
Efek samping yang terpenting pada penggunaan oral berupa gangguan
lambung-usus dan reaksi alergi seperti penisilin, yakni rash,
urticaria,anafilaksis. Alergi silang sering terjadi dengan derivat penisilin.
Pada penggunaan i.v sering terjadi tromboflebitis dan nyeri di tempat
suntik.
c. Penggolongan
Berdasarkan khasiat anti mikroba dan resistensinya terhadap betalaktamase,
sefalosporin lazimnya digolongkan sebagai berikut :
1)
Generasi
ke-1,zat-zat ini terutama aktif terhadap coci gram positif, tidak berdaya
terhadap gonococci. Pada umumnya tidak tahan laktamase.
2)
Generasi
ke-2, lebih aktif terhadap kuman gram negatif. Obat-obat ini agak kuat tahan
laktamase. Khasiatnya terhadap kuman gram positif.
3)
Generasi
ke-3, aktivitasnya terhadap gram negatif lebih kuat dan lebih luas lagi dan
meliputi pseudomonas dan bacteriodes. Resistensinya terhadap laktamase juga
lebih kuat, tetapi khasiatnya terhadap staphylococcus jauh lebih rendah.
4)
Generasi
ke-4, obat-obat baru ini sangat resistensi terhadap laktamase.
d. Penggunaan
Sebagian besar dari sefalosporin perlu diberikan parenteral dan terutama
digunakan di rumah sakit.
1)
Zat gen-1, sering
digunakan per oral pada infeksi sauran kemih ringan dan sebagai obat pilihan
kedua pada infeksi saluran nafas dan kulit yang tidak begitu parah dan bila
terdapat alergi untuk penisilin.
2)
Zat gen 2/3,
digunakan parenteral pada infeksi yang resisten terhadap amoxicilin dan
sefalosporin gen-1, juga digunakan dengan aminoglikosida untuk memperluas dan
meningkatkan aktivitasnya,digunakan juga untuk gonorrhoe akibat gonokok yang
membentuk laktamase.
3)
Zat gen-3,
sering dianggap sebagai obat pilihan pertama untuk gonorrhoe.
4)
Zat gen-4,
dapat digunakan bila dibutuhkan efektivitas lebih besar pada infeksi dengan
kuman gram positif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar