Sabtu, 31 Oktober 2015


1.    GOLONGAN PENISILIN
Alexander Fleming

Antibiotika pertama yang pertama ditemukan oleh Alexander Fleming di London yang satu dekade kemudian dikembangkan oleh Florey untuk penggunaan sistemik dangan menggunakan biakan Penisilium notatum. Akibat kebutuhan penisilin dalam jumlah besar pada saat perang dunia II, kemudian digunakan Penisilin crysogenum yang dapat menghasilkan penisilin lebih banyak. Sekarang dibuat secara semi sintesis. Penisilin termasuk antibiotik golongan beta-lactam karena mempunyai rumus bangun dengan struktur seperti cincin beta-lactam yang merupakan syarat mutlak untuk menunjukkan khasiatnya. Jika cincin menjadi terbuka oleh enzim beta-lactamase maka khasiat anti bakteri antibiotik penisilin menjadi lanyap.

a.    Mekanisme kerja
Penisilin merintangi / manghambat pembentukan / sintesa dinding sel bakteri sehingga sel bakteri tumbuh dengan dinding sel yang tidak sempurna maka bertambahnya plasma atau air terserap dengan jalan osmosis akan menyebabkan dinding sel pecah sehingga bakteri menjadi musnah. Dinding sel kuman terdiri dari suatu jaringan peptidoglikan, yaitu polimer dari senyawa amino dan gula yang saling terikat satu dengan yang lain dan dengan demikian mamberikan kekuatan mekanis pada dinding. Penisilin menghalangi sintesa lengkap dari polimer ini yang spesifik bagi kuman dan disebut murein. Dinding sel manusia dan hewan tidak terdiri dari murein, maka antibiotika ini tidak toksis pada manusia.

b.    Aktivitas
Penisilin-G dan turunannya bersifat bakterisid terutama kuman gram positif dan hanya beberapa kuman gram negatif. Penisilin termasuk antibiotika spektrum sempit. Ampisilin mamiliki spektrum labih luas yang maliputi banyak kuman gram negatif. Sebagaimana telah di utarakan antibiotik bakterisida ini tidak dapat dikombinasikan dengan bakteriostatika. Hal ini dikarenakan pertumbuhan sel dan dindingnya. Semua infeksi oleh staphylococcus disebabkan oleh kuman penghasil penisilin dan karena itu harus diobati dengan penisilin yang tahan penisilinase

                 c.    Resistensi
Mekanisme resistensi terhadap penisilin :
·         Pembentukan enzim betalaktamase
·         Enzim autolisin kuman tidak bekerja sehingga timbul sifat toleran kuman terhadap obat
·         Kuman tidak mempunyai dinding sel

d.    Efek samping
Yang terpenting adalah reaksi alergi akibat hipersensitasi, yang dapat menimbulkan kamatian. Pada penisilin spektrum luas agak sering terjadi gangguan lambung usus mis: diare,mual,muntah. Pada dosis tinggi dapat terjadi reaksi nefrotoksis dan neurotoksis.

e.    Penggolongan
1)    Zat-zat dengan spektrum sempit, zat ini terutama aktif terhadap kuman gram positif dan diuraikan oleh penisilinase.
2)    Zat-zat tahan laktamase, dengan jalan memblokir laktamase dan dengan demikian mempertahankan aktivitas penisilin yang diberikan bersamaan.
3)    Zat-zat dengan spektrum luas, tidak tahan laktamase, maka sering digunakan terkombinasi dengan suatu laktamase-blocker.
4)    Zat-zat anti-pseudomonas, tidak tahan laktamase dan pada umumnya digunakan bersamaan dengan laktamase-blocker.


2.    GOLONGAN SEFALOSPORIN
Chepalosporium acremonium
 Sefalosporin diperoleh dari biakan Chepalosporium acremonium. Seperti halnya penisilin, daya mikrobanya terletak pada cincin beta-laktam, dengan mekanisme kerja berdasarkan perintangan sintesis dinding sel.
Walaupun aktivitasnya luas, namun sefalosporin bukan merupakan obat pilihan pertama untuk penyakit manapun, karena masih terdapat obat-obat lain yang kurang lebih sama khasiatnya dan jauh lebih murah harganya.

a.    Mekanisme kerja dan aktivitas
Seperti halnya antibiotik betalaktam lain, mekanisme kerja antimikroba sefalosporin ialah manghambat sintesa dinding sel mikroba. Yang dihambat ialah reaksi transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel. Sefalosporin aktif terhadap kuman gram positif maupun gram negatif, tetapi spektrum antimikroba masing-masing derivat bervariasi.

b.   Efek samping
Efek samping yang terpenting pada penggunaan oral berupa gangguan lambung-usus dan reaksi alergi seperti penisilin, yakni rash, urticaria,anafilaksis. Alergi silang sering terjadi dengan derivat penisilin. Pada penggunaan i.v sering terjadi tromboflebitis dan nyeri di tempat suntik.

c.    Penggolongan
Berdasarkan khasiat anti mikroba dan resistensinya terhadap betalaktamase, sefalosporin lazimnya digolongkan sebagai berikut :
1)    Generasi ke-1,zat-zat ini terutama aktif terhadap coci gram positif, tidak berdaya terhadap gonococci. Pada umumnya tidak tahan laktamase.
2)     Generasi ke-2, lebih aktif terhadap kuman gram negatif. Obat-obat ini agak kuat tahan laktamase. Khasiatnya terhadap kuman gram positif.
3)     Generasi ke-3, aktivitasnya terhadap gram negatif lebih kuat dan lebih luas lagi dan meliputi pseudomonas dan bacteriodes. Resistensinya terhadap laktamase juga lebih kuat, tetapi khasiatnya terhadap staphylococcus jauh lebih rendah.
4)     Generasi ke-4, obat-obat baru ini sangat resistensi terhadap laktamase.

d.    Penggunaan
Sebagian besar dari sefalosporin perlu diberikan parenteral dan terutama digunakan di rumah sakit.
1)    Zat gen-1, sering digunakan per oral pada infeksi sauran kemih ringan dan sebagai obat pilihan kedua pada infeksi saluran nafas dan kulit yang tidak begitu parah dan bila terdapat alergi untuk penisilin.
2)    Zat gen 2/3, digunakan parenteral pada infeksi yang resisten terhadap amoxicilin dan sefalosporin gen-1, juga digunakan dengan aminoglikosida untuk memperluas dan meningkatkan aktivitasnya,digunakan juga untuk gonorrhoe akibat gonokok yang membentuk laktamase.
3)    Zat gen-3, sering dianggap sebagai obat pilihan pertama untuk gonorrhoe.
4)    Zat gen-4, dapat digunakan bila dibutuhkan efektivitas lebih besar pada infeksi dengan kuman gram positif.